White Box Stories

My Aero Space

My Aero Space

Teruntuk langit soreku,

Hari ini aku kembali berkisah tantang petualanganku ke luar angkasa.

Ya, petualanganku ke luar angkasa.

Terdengar seperti lelucon, tapi begitulah adanya.

Sungguh.

Pagi ini aku memulai hari dengan segelas orange juice yang di berikan oleh ayah angkatku, ya dia adalah ayah angkatku di keluarga internasional ini. Aku menikmati sarapan pagiku dengan telur dadar dan segelas orange juice.

Ku putar lagu sang James Blunt,

Sungguh awal yang indah untuk memulai hari.

Setelah sarapan, aku bergegas mencari sebatang cokelat yang ku taruh di lemari.

Cokelat.

Aku sangat menyukai cokelat bagaikan seorang balita yang tidak pernah berhenti mengisap ibu jarinya. Disini aku menemui nama baru yang disematkan keluarga internasional ku, bahkan teman-temanku.

Gadis Cokelat.

Kau tahu?

Bagiku cokelat dapat membuatku selalu ceria, ataupun kembali ceria selepas badai kehidupan hinggap untuk sementara.

Cokelat memberiku energy untuk tetap selalu positif dan positif membuatku bahagia.

Sang gadis cokelat sangat senang bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, karena baginya, Kebahagiaan itu menular.

***

Akupun menaiki trem musim semi, melihat-lihat pemandangan sekitar melalui jendela. Namun, langit soreku kala itu sedang muram.

Menorehkan langit abu-abu.

Tetapi, bagiku tak masalah.

Tak selamanya langit harus selalu cerah.

Karena jika langit hanya menunjukan warna yang cerah setiap hari, maka kita takan pernah tahu dan menghargai kecerahan itu ada.

Sungguh bak filosofi hidup.

Langit muram mengajarkan kepada kita untuk bersabar menanti pergantian gradasi warna yang cerah, karena tak selamanya langit akan abu-abu.

Pemandangan arsitektur eropa memang sungguh indah, walau langit sedang tak bersahabat.

Ku lihat dari kaca jendela, pepohanan musim semi mulai menampakan warnanya berpadu dengan tetes air hujan, dan baunya yang khas.

Cantik.

Aku merekamnya dengan baik dalam kotak memori yang ajaib, dari alat yang bernama mata kemudian ku simpan baik-baik dalam kotak ajaib, otak ku.

Aku begitu menikmati kotak ajaibku yang sedang merekamnya.

Kotak Putihku.

Dimana kah kau berada?

Tidak kah kau tahu?  Sang nenek tua dengan pakaian ala Harry Potter yang ku temui tadi malam, berkata padaku untuk berhenti mencarimu.

Kotak Putihku akan kembali pada saat yang tepat.

“Kau harus berhenti mencarinya”, sahut nenek tua.

Ketika kau mendekat, ia menjauh. Namun, ketika kau menjauh, ia akan menemukan jalanya untuk kembali mendekat.

Karena sesuatu akan begitu terasa berharga ketika kau kehilanganya.

Bagiku setidaknya aku sudah berusaha untuk mencari koin itu untuk membuka kotak putihku.

Ahhh… gadis cokelat, berhentilah melamun.

Hingga sebuah plang bertuliskan stasiun Republic Square menurunkan ku dari trem yang membawaku kemari. Aku berjalan, melewati zebra cross berbekal keceriaan yang kudapat dari bahan bakar kebahagianku, cokelat.

Aku bertemu dengan sahabat karibku hari ini, seorang gadis manis berambut brunette berpadu dengan mata cokelat khas Eropa Timur.

Kami menghabiskan waktu bersama.

Bertandang ke restoran meksiko, restoran favorite sang gadis cokelat dan gadis brunette.

Setelah selesai mengambil pesanan tortilla pilihan kami, saatnya memilih bangku untuk duduk. Aku pun memilih bangku yang berdekatan dengan jendela.

Bagiku duduk didekat jendela sangat menyenangkan.

Kau bisa melihat orang-orang hilir mudik kesana kemari, ada yang sibuk dengan handphonenya, sepasang kekasih berjalan dengan payung kasih sayang, orang tua yang sedang menggendong anaknya, ataupun sekumpulan anak remaja yang berjalan menghabiskan waktu bersama, juga kakek dan nenek yang sedang memegang tongkat. Ditambah corak pakaian yang warna warni yang mereka kenakan.

Duduk di dekat jendela memberiku sejuta inspirasi, entah apapun itu.

Aku begitu menyukainya.

Selepas dari restoran meksiko, sang gadis cokelatpun  melanjutkan kembali kisahnya.Bertandang ke museum seorang Scientist.

Untuk kedua kalinya aku mengunjungi museum ini, aku begitu menyukai dekorasi dan aneka kejutan di dalamnya. Berkisah tentang tulang yang menari, pertunjukan cahaya patung Liberty, gunung bergelombang, jejak petualangan mata angin, pintu doraemon masa lalu, dan yang paling aku sukai adalah bermain ayunan di dalam bioskop ruang angkasa.

Aku ingin memiliki ruangan seperti ruang angkasa itu di dalam kamar kecilku.

Ruangan angkasa yang menyimpan sejuta mimpi, dengan tarian tradisional khas ruang angkasa diperankan oleh benda-benda langit. Termasuk bumi, tempat tinggalku.

Hal yang tak akan pernah bosan, memberiku sejuta mimpi yang terus menunjukan warnanya, sebongkah harapan bak gunung es titanic, dan sengatan inspirasi serta aliran listrik jiwa artistik tumbuh subur di dalam diriku.

Bioskop Ruang Angkasa
Pintu Doraemon Masa Lalu
Jejak Petualang Mata Angin
Tulang yang Menari
Pertunjukan Cahaya Patung Liberty
Gadis Cokelat
Figura 1.1
Figura 1.2

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s