Midnight Stories

Pelajaran Hidup Dari Gadis Kecil Hampir 12 Tahun Silam

Mereka melihat(6)

Entah apapun itu, saya sangat bersyukur sekali hari ini. Setiap orang-orang yang pernah saya temui memiliki kisah hidupnya masing-masing. Bagaimana indahnya ketika berbagi cerita dan hanyut di dalam intisari, mencoba merasakan dan membayangkan alur demi alur.

Hari ini teman saya bercerita tentang pengalamanya sewaktu Tsunami Aceh melanda hampir 12 tahun silam. Tepatnya pada 26 Desember 2004. Rata-rata, teman-teman saya yang berasal dari Aceh ketika saya tanyai, “Bagaimana keadaan kalian ketika Tsunami menerjang Aceh pada waktu itu?”, Mereka menjawab saat itu kami sedang menonton Doraemon. Kartun favorite generasi 90-an. Saya pribadi juga menyukai animasi tersebut, animasi yang mewarnai masa kecil saya. Bangun di minggu pagi hanya untuk menyaksikan kartun kesayangan saya di layar kaca. Kebiasan yang terus berlanjut dari masa ke masa, akan tetapi frekuensi menonton Doraemon saya bisa dikatakan tidak seperti dulu lagi, di karenakan skala prioritas yang harus saya tuntaskan.

Baik, sampai lupa tadi. Saya begitu hanyut mendengar sahabat saya menceritakan pengalamanya pada waktu itu. Bagaimana ia sempat merasakan terseret air Tsunami dan ada seorang kakek tua yang menyelamatkanya, terpisah berminggu-minggu dari keluarga, trauma berat hingga tidak mau berbicara dengan orang-orang juga relawan-relawan yang membantu saat bencana, mencium aroma-aroma mayat yang membuat hidungnya terbiasa untuk itu, lalu tidur diantara mayat-mayat yang keesokan harinya di bungkus dalam kantong oranye, berpindah ke pengungsian dari satu ke yang lain nya, mengais sisa-sisa yang masih layak untuk di makan demi bertahan hidup, tidur di pinggir jalan seadanya, bertemu dengan teman senasib yang sekarang sudah di adopsi oleh orang tua angkat, lalu bagaimana malam itu ia kembali tidur di rumah sakit dengan tempat tidur yang bertingkat, sungguh 2 kehidupan yang berbeda antara yang mati dan hidup. Yang mati posisinya berada di atas tempat tidur bertingkat dan orang-orang yang masih hidup berada dibawahnya. Hingga, tangan dari mayat diatasnya terlentang di pinggir tempat tidur yang menggemparkan seisi ruangan dan ternyata mayat itu masih hidup terlepas dari lumpur hitam pekat bawaan dari sisa-sisa Tsunami menyelimuti tubuhnya.

Aku tak bisa membayangkan di posisinya. Bagaimana ia bertahan melewati itu semua dengan usianya yang masih sangat belia. Bagaimana ia mengendalikan rasa takutnya.

“Orang tuamu kemana?”
“Tidak ada.”
“Kalau begitu adik bisa tinggal dengan kami.”
“Tidak mau.”

Gadis kecil itu menolak sembari hatinya berkeyakinan bahwa orang-orang yang ia sayangi masih hidup. Gadis itu tak pernah berbicara banyak, traumatik masih menghampirinya.

Saya pernah menonton filem berjudul “The Impossible”, kisah nyata satu keluarga tentang Tsunami di Thailand yang sukses membuat saya haru biru masuk kedalam kisahnya. Skenario sang pencipta memanglah yang terbaik, tak ada yang bisa menandingi itu sekalipun novelis-novelis ternama di dunia ini.

Banyak pelajaran hidup yang dapat saya petik darinya. Tentang hidup yang sempat putus asa dalam diagnosis dokter, lolos dari maut untuk kesekian kalinya, dukungan yang berarti dari keluarga, hingga titik dimana bertemu dari perpisahan selama berminggu-minggu. Itu semua mengingatkan saya agar lebih mensyukuri nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s