Midnight Stories · Personal · Thoughts

Perkara Sejengkal Kepulau Seberang

STRICTLY

 

​Yogyakarta, 30 Desember 2017

Tak ada yang menginginkan, tapi kabar itu nyatanya datang juga. Ketika ruh terlepas dari jasad, mata yang terbukapun perlahan-lahan menutup seiring datarnya detak jantung yang berhenti memompa darah keseluruh tubuh. Birunya kabar itu jugalah yang menggerakanku untuk menulis ini.  


Sukabumi, 4 Juni 2012

“Gak mau… Pokoknya neng gak mau ikut ke Padang.” gerutu seorang Neng Pibi.

Ngomong-ngomong, saat itu pemahaman letak geografisku masih minim. Oh ya, sedikit cerita istilah “Neng” adalah panggilan khas Budaya Sunda, Indonesia. Penggunaan kata “Neng” artinya merujuk pada anak perempuan.

Lain halnya sejarah kata Neng yang ada dalam kamusku. Nama ini di sematkan oleh Almarhum Kakek kepadaku, sebab selain aku adalah cucu pertama dari 2 keluarga, perjuangan ku dilahirkan juga cukup berat.

Kakek dan Ayah bahkan mati-matian berjuang waktu mencarikan darah untuk Ibu.

Mereka bilang saat melahirkanku, Ibu kehabisan banyak sekali darah. Kalau dihitung, butuh setidaknya 5 kantong darah golongan A dengan resus negatif untuk menyelamatkan Ibu.

Untungnya, Allah maha baik. Jika telat sedikit saja, mungkin  ibu akan Ah…  Sudahlah…

***

Malam itu aku tak bisa tidur, sibuk membolak-balikan diri. Pikiranku dipenuhi oleh ajakan Ayah ke Sumatera Barat.

Ayah sampai tak mau mengakuiku sebagai anaknya jika aku tak menuruti pintanya.

Ku akui, dulu aku memang keras kepala.

Tapi kalau aku tetap bersikukuh, aku bisa tidak diakui sebagai anak.

Hiii… Suram… Membayangkannya saja aku sampai kelilipan.

Belakangan ini aku baru sadar, sebenarnya ancaman Ayah yang menakut-nakutiku sebenarnya, hanya ingin agar aku patuh juga belajar pembelajaran hidup.

Melihat dunia lebih luas lagi, mengenal keberagaman budaya dan utamanya bisa menyambung tali silahturahmi dengan banyak orang.

Duh aku jadi teringat dulu, waktu kecil aku sering di asuh oleh tante Iyet dari Solok, Sumatera Barat.

Lama diasuh oleh beliau, membuatku lengket seperti lem dan kertas.

Bahkan saat itu, aku bagai dianggap anak sendiri olehnya.

Tak tanggung-tanggung, saat mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) tante Iyet selalu membawaku. Mulai dari naik angkutan umum, hingga mengajar dikelas.

2 tahun berselang, tante Iyet pun memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya untuk menikah.

Sontak kamipun berpisah. Sebulan lamanya aku menangis. Rindu diasuh oleh tante.

Dari dulu hingga sebelum beranjak dewasa, hal yang selalu ku takutkan adalah perpisahan. Perpisahan berati kehilangan. Perasaan kehilangan, membuatku sulit untuk move on.

Hehehe.. Terlalu di dramatisir sih, but seriously, that is the real fact.

Tapi jika dibandingkan dengan sekarang, aku mungkin sudah terbiasa.

Hidup dirantauan yang menempaku.

Memang benar kata Imam Syafi’i,

“Merantaulah, kelak engkau akan mendapatkan ganti yang lebih baik.”

Dulu aku selalu menangis keluar dari zona nyaman berpisah dari keluarga setiap mau menimba ilmu dipulau Jawa. (Kenapa harus Jawa? Sebab pendidikan di Indonesia tersentralisasi dan memang berkembang pesat di Jawa dan kebetulan salah seroang keluargaku memang menetap di Jawa tapi dibagian Baratnya) Hehehe…

Di kota kelahiranku sekaligus perantauan di tanah Sunda menjadi titik balik segalanya. (Sebab hanya aku sendiri yang pindah, keluargaku masih menetap di Kalimantan)

Ditanah Sunda, aku mulai hijrah mendekatkan diri dengan Tuhanku dan semakin mengenal agamaku lebih dalam.

Lebih-lebih, aku bersyukur berada dalam lingkungan yang legit dengan nuansa islami.

Makin-makin deh jatuh cinta dengan keindahan setiap sudut agamaku.

***

Sempat dihantui perasaan ogah-ogahan mengingat perjalanan akan di tempuh lewat darat dan air yang memakan waktu berhari-hari, pikiranku sudah tertuju pada Ambeien saja.

Cepat-cepat kusingkirkan pikiran buruk itu. Akhirnya, setelah seminggu aku baru berani unjuk gigi dengan menyetujui ajakan Ayah melalui berbagai pertimbangan yang lebih mendatangkan banyak manfaat tentunya.

“Lagipula aku memang belum pernah ke Sumatera?”, pikirku.

Orang bilang hidup itu dimulai ketika kita mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

***

Ajakan Ayah sebenarnya adalah integral dari momentum salah satu keluarga kami yang kebetulan baru mendapat rezeki nomplok.

Sebagai peresmiannya, si mesin putih yang ditaburi biji kopi (Tante bilang ditaburi biji kopi biar orang-orang dalam mobil enggak mabuk darat dibantai bau mobil baru) lalu, si Putih pun siap meluncur kurang lebih 1.000 km dari Sukabumi mengitari sibuknya jalanan Jakarta hingga ke pelabuhan Bakeheuni naik kapal Ferri untuk menyebrangi Selat Sunda yang memisahkan antara Provinsi Banten dan Lampung.

Saat melintasi selat Sunda, kami disuguhi oleh pemandangan anak-anak Gunung Api Krakatau yang berjejer dimana-mana.

Aku jadi ingat, letusan Krakatau dulu pada tahun 1814. Letusan ini merupakan letusan terdahsyat. Bahkan getarannya menjalar ribuan kilometer sampai ke benua biru, ratusan ribu orang meninggal sebab tidak hanya memuntahkan lava dari dapur magma, letusan Krakatau yang menggeliat juga memicu kemarahan Tsunami.
Alhasil langit tak lagi biru, melainkan abu-abu selama berminggu-minggu.

To be continued.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s